Mengapa Siswa Tidak Hormat kepada Guru?
Di ruang kelas, kadang kita bertanya dalam diam: mengapa anak yang kita didik justru berbicara kasar, tidak peduli, bahkan menantang? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Namun sebelum menyalahkan siswa sepenuhnya, ada baiknya kita melihat lebih dalam—bukan untuk membenarkan sikap mereka, tetapi untuk memahami akar masalahnya.
1. Dunia Anak Telah Berubah
Siswa hari ini tumbuh di era digital. Mereka terbiasa dengan kebebasan berpendapat di media sosial, tontonan tanpa batas, dan budaya yang sering kali tidak menempatkan guru sebagai figur yang harus dihormati. Ketika nilai dari luar lebih kuat daripada nilai dari sekolah, maka benturan sikap pun terjadi.
2. Kurangnya Keteladanan di Sekitar Mereka
Tidak semua anak hidup di lingkungan yang menanamkan adab. Ada yang terbiasa melihat pertengkaran, kata-kata kasar, atau sikap meremehkan otoritas. Sekolah sering menjadi tempat pertama mereka belajar tentang hormat—dan proses itu membutuhkan waktu serta kesabaran.
3. Mereka Sedang Mencari Jati Diri
Usia remaja adalah masa ingin diakui. Kadang mereka menentang bukan karena benci, tetapi karena ingin terlihat kuat di depan teman. Perilaku tidak hormat sering kali hanyalah bahasa lain dari kegelisahan yang belum mereka pahami.
4. Hubungan Emosional yang Lemah
Anak lebih mudah menghormati guru yang mereka rasakan peduli. Ketika interaksi hanya sebatas tugas dan nilai tanpa sentuhan hati, maka wibawa sulit tumbuh. Hormat bukan hanya lahir dari aturan, tetapi dari kedekatan yang tulus.
5. Luka yang Tidak Terlihat
Sebagian siswa membawa masalah dari rumah: konflik keluarga, tekanan ekonomi, kurang kasih sayang, atau perasaan tidak dihargai. Luka batin sering muncul dalam bentuk perilaku kasar—bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka lelah.
Renungan untuk Para Guru
Menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi menjadi tempat pulang yang aman bagi jiwa-jiwa muda. Kadang rasa hormat tidak datang lebih dulu—kitalah yang harus menanamnya dengan sabar.
Dan guru itu… semoga adalah kita.